Tampilkan postingan dengan label Hacker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hacker. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2016

Isu hacker muncul di SMA Palembang, peserta UNBK cemas


Indohitznews.com-  Siswa SMA sederajat yang menjadi peserta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Palembang dibuat cemas dengan adanya isu aksi hacker yang akan menyerang sistem komputerisasi. Untuk mengantisipasinya, Dinas Pendidikan (Diknas) Sumsel membuat posko pengaduan agar cepat mengatasi masalah yang terjadi


Kepala Diknas Sumsel, Widodo mengatakan, isu tersebut sebaiknya tidak membuat para peserta khawatir. Sebab, isu itu tidak bakal terjadi dan UNBK yang berlangsung tanggal 4 hingga 12 April ini akan berjalan lancar.


"Memang ada kekhawatiran oleh para siswa. Tapi, saya pastikan tidak ada serang hacker," ungkap Widodo, Senin (4/4).


Menurut dia, UNBK mendapat pengamanan dan pengawasan yang ketat oleh protector yang sudah dilatih Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan begitu jika terjadi sesuatu yang bisa menghambat proses ujian akan cepat terpantau dan diatasi.


"Guru dan siswa fokus saja dengan ujian. Jangan cemas server sekolah diserang hacker," ujarnya.


Meski demikian, pihaknya juga meminta kerjasama pihak sekolah untuk segera melaporkan ke pusat layanan pengaduan UN tentang hal-hal yang terjadi saat ujian berlangsung. Layanan ini juga berlaku bagi sekolah yang menyelenggarakan UN manual.


"Intinya cepat koordinasi, apapun itu. Jangan sampai anak didik kita dirugikan," pungkasnya.


(Source:Merdeka.com)


.


Senin, 28 Maret 2016

7 Hacker Iran Serang Puluhan Bank AS


Indohitznews.com- Tujuh orang peretas asal Iran melakukan serangan cyber terkoodinasi terhadap puluhan bank di Amerika Serikat. Selain menyebabkan kerugian jutaan dolar, serangan tersebut juga hampir mematikan sebuah bendungan di New York.


Tuduhan tersebut muncul dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pemerintah AS, yang awalnya hanya menyebut ada sejumlah orang dari negara lain yang mencoba merusak infrastruktur penting di Negeri Paman Sam itu.


Namun kini pemerintah AS sudah yakin bahwa pelaku penyerangan itu berasal dari Iran, atas perintah pemerintahan Iran dan Islamic Revolutionary Guard, dikutip dari Reuters, Senin (28/3/2016).


Para pelaku itu diyakini tinggal di Iran, dan pemerintahan Iran diperkirakan tak akan mau melakukan ekstradisi terhadap ketujuh pelaku penyerangan cyber tersebut, meski sampai saat ini belum ada komentar dari pihak pemerintahan Iran.


Setidaknya ada 46 institusi finansial besar dan perusahaan yang bergerak di sektor finansial menjadi target serangan itu. Antara lain adalah JPMorgan Chase, Wells Fargo dan American Express. Perusahaan telekomunikasi AT&T pun kabarnya juga sempat menjadi target seragan tersebut.


Selain itu ada juga serangan terhadap sebuah bendungan bernama Bowman Avenue Dam in Rye Brook, New York. Serangan tersebut dianggap sangat membahayakan karena dilakukan terhadap infrastruktur yang sangat penting.


Serangan terhadap bendungan itu gagal karena kebetulan sistem pembuka pintu bendungan sedang tak terhubung ke dalam jaringan internet. Saat serangan itu terjadi, ada perawatan rutin yang dilakukan di bendungan tersebut.


Tujuh orang hacker tersebut diduga menyerang menggunakan metode distributed denial of service (DDoS) secara terus menerus. Metode ini seringkali disebut bukanlah cara yang canggih untuk melakukan serangan, karena cuma membanjiri jaringan komputer dengan lalu lintas data yang sangat tinggi


(Source:Detikcom)

Jumat, 25 Maret 2016

Anak Muda Mulai Tergiur Jadi Hacker


Indohitznews.com- Siapa sangka ternyata banyak anak muda yang tertarik menjadihacker. Salah satu pemicunya adalah menjadi hacker saat ini jauh lebih mudah berkat ketersediaan layanan-layanan pendukung.


Diungkapkan Country Manager Trend Micro, Andreas Ananto Kagawa, untuk menjadi hackersaat ini tidak lagi harus mahir programming dan berbagai keahlian IT lainnya. Hal ini di antaranya karena sudah banyak layanan yang menyediakan exploit kit guna mempermudah mereka membuat malware.


"Sekarang menjadi hacker jauh lebih mudah daripada dahulu. Sekarang dia bisa berlangganan ke satu layanan, lalu membeli yang namanya exploit kit, dan dari sana mereka bisa membuat malware-malware baru," ungkap Andreas saat ditemui di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (23/3/2016) kemarin. 


Anak-anak muda itu, katanya, tidak hanya sekedar membuat malware dan menyebarkannya. Bahkan mereka sudah bisa menghasilkan uang.


"Pernah di Brasil kita berhasil ketahui dia masih pelajar, tapi sudah bisa menghasilkan uang dari situ," tuturnya.


Penemuan tersebut dinilai tidak lagi mengejutkan. Terlebih mengingat Brasil berdasarkan laporan Ikhtisar Keamanan 2015 "Setting the Stage: Landscape Shifts Dictate Future Threat Response Strategies" Trend Micro, merupakan salah satu negara dengan eksplorasi cyber "bawah tanah" terbanyak.


(Source:Liputan6.com)

Rabu, 23 Maret 2016

Grup hacker Anonymous sukses tipu FBI dan Donald Trump


Indohitznews.com-   Anonymous, grup hacker yang sering disebut terbesar di dunia beberapa waktu lalu telah menyatakan perang melawan calon presiden Amerika dari Partai Republikan, Donald Trump. Kabar terbaru, Anonymous berhasil membuat Donald Trump hingga FBI was-was tanpa sebab.


Di awal minggu ini, Anonymous mengungkap bila pihaknya sudah merilis data personal Donald Trump di internet. Data pribadi itu beraneka macam, mulai dari alamat rumah, alamat email, sampai nomor ponsel.


Sontak, Donald Trump langsung bereaksi dan percaya bila dirinya menjadi aksi kejahatan siber. Bahkan, komentar Donald Trump itu ditindaklanjuti FBI dengan melakukan serangkaian investigasi.


Akan tetapi, ternyata yang dilakukan Anonymous itu adalah jebakan, sebab semua data itu tidak didapat lewat aksi peretasan. Lalu, dari mana semua data pribadi itu?


Ternyata semua data yang 'dibocorkan' oleh Anonymous itu sebelumnya sudah beredar di internet. Hacker Anonymous hanya mengumpulkannya, lalu mengklaimnya sebagai data yang mereka curi dari Donald Trump.


Tentu saja Anonymous langsung merayakan keberhasilan mereka menipu FBI dan Donald Trump lewat sebuah video. Video ini dibuat oleh salah satu hacker Anonymous bernama RedCult.


"Pemerintah dan aparat hukum sedang berusaha menangkap orang-orang yang bertanggung jawab meretas akun dan informasi telepon Mr. Trump secara ilegal. Trump ingin mengubah Amerika menjadi negara diktator fasis di mana setiap orang bisa ditangkap hanya karena memposting informasi lama ke internet," ujar RedCult dalam video Anonymous.


"Terima kasih Trump dan kampanyemu. Terima kasih polisi, FBI, dan dinas rahasia karena telah menjadi bagian dari eksperimen kecil kami. Eksperimen yang menurut kami bisa menunjukkan bagaimana gambaran negara yang disebut Amerika di masa depan," lanjut RedCult.


(Source:Merdeka.com)

Jumat, 18 Maret 2016

Hacker gagal rampok Rp 11,5 triliun gara-gara 'typo'


Indohitznews.com- Siapa yang tidak benci typo? Kesalahan penulisan kata ini banyak membuat orang kena malu, terutama di media sosial. Nah, soal siapa yang kini paling benci typo, mungkin adalah grup hacker yang baru-baru ini menyerang akun bank Bangladesh.


Dikutip dari Softpedia (11/03), empat hari lalu dilaporkan sebuah grup hacker misterius berhasil membobol akun bank Bangladesh yang ada di bank sentral Amerika Serikat atau "Federal Reserve Bank". Rekening bank negara Bangladesh ini sendiri diklaim berisi USD 20 miliar atau Rp 260 triliun lebih!


Sekitar tanggal 4-5 Maret lalu, hacker berhasil menyerang rekening Bangladesh dan melakukan transfer ke beberapa rekening di berbagai bank di dunia. Setidaknya sudah ada empat transaksi yang berhasil dilakukan, dengan total Rp 1 triliun. Empat transaksi itu dialamatkan ke beberapa kasino di Filipina.


Untungnya, sebelum transaksi lain selesai terkirim, pihak hacker ceroboh dan salah menulis penerima transfer yang seharusnya "Shalika Foundation" ditulis jadi "Shalika Fandation". Nah, kesalahan ini kemudian terdeteksi oleh Bank Jerman.


Bank Jerman lalu memberitahu kesalahan mencurigakan ini ke pihak Federal Reserve di Amerika. Bank sentral Amerika itu lantas menghubungi bank Bangladesh untuk mengonfirmasi pengiriman uang dalam jumlah besar itu.


Setelah tahu bank Bangladesh tidak merasa mengirimkan uang itu, ban sentral Amerika langsung membatalkan sisa transaksi lain yang totalnya mencapai Rp 11,5 triliun! Seandainya grup hacker itu tidak membuat kesalahan, kasus ini tidak diragukan lagi akan menjadi aksi peretasan paling mahal di dunia.


[Source-Merdeka.com]

Minggu, 13 Maret 2016

Hacker bobol bank Bangladesh, ciptakan rekor pencurian Rp 1 triliun

Indohitznews.com- Kelompok peretas bulan lalu berhasil membobol sistem jaringan bank di Bangladesh. Mereka mendapat akses transfer kemudian buru-buru mencuri USD 80 juta (setara Rp 1 triliiun), termasuk salah satu pencurian dana terbesar sepanjang masa. Kabar pembobolan dana menghebohkan ini baru disampaikan pada publik pekan lalu.


Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sebetulnya memantau transfer mencurigakan tersebut, tapi tidak melakukan apa-apa. Transfer diarahkan ke rekening di Filipina dan Sri Lanka, seperti dilaporkan Reuters, Minggu (13/3).


Sebetulnya para peretas bisa membawa kabur miliaran dollar, seandainya proses transfer ini tidak ketahuan gara-gara salah tulis. Seorang peretas mengarahkan transfer lebih dari USD 20 juta ke rekening milik Yayasan Shalika Foundation. Tapi yang dia tulis justru 'Fandation'.


Akibat typo itulah, jaringan perbankan international, dipimpin Deutshe Bank, menghubungi bank sentral Bangladesh yang dibobol habis-habisan. Sayangnya, ketika transfer itu dihentikan, para peretas jahat terlanjut membawa pergi USD 80 juta.


Bank Sentral Bangladesh segera bekerja sama dengan Interpol memburu para peretas tersebut. Sebagian dilaporkan benar-benar tinggal di Filipina. Beberapa tersangka sudah ditangkap. Belum diketahui berapa dana yang tercuri berhasil diambil kembali oleh otoritas moneter Bangladesh.


"Kami beruntung mendapat peringatan bahwa ada transaksi keuangan yang skalanya terlalu besar untuk perekonomian negara kami," kata salah satu pejabat Pan Asia Banking - salah satu bank swasta terbesar di Bangladesh - yang menolak disebut namanya


Menteri Keuangan Bangladesh, Abul Maal Abdul Muhith, memprotes The Fed. Bank sentral AS itu seharusnya bisa menghentikan transfer di tengah jalan. Pemerintah Bangladesh kini sedang mempelajari kemungkinan menuntut the Fed untuk mengembalikan uang yang hilang.


"The Fed harus bertanggung jawab," kata Maal.


Pembobolan ini, meskipun nilainya fantastis, masih belum menjadi yang terbesar sedunia. Perusahaan keamanan siber, Kapersky, menyatakan tahun lalu peretas multinasional mencuri lebih dari USD 1 miliar dari 100 perusahaan keuangan seluruh dunia.


Advertising Here